" Satu lagi hal dari indonesia kita . . Benar negri kita punya mbah'nya dari segala mbah'nya ikan Bruakakak . . . . inilah Coelacanth yang terkenal "
Coelacanth adalah yang paling terkenal dari semua "fosil hidup" dan pantas menjadi #1 , karena ini adalah contoh terbaik dari semua fosil hidup, karena ini adalah hewan yang seharusnya sudah lama punah. Ikan ini seharusnya telah punah pada periode Cretaceous, bersama dengan dinosaurus, tetapi pada tahun 1938, sebuah spesimen hidup tertangkap di Afrika Selatan. Sejak itu, diteliti lebih banyak spesimen telah dilihat dan difoto, dan spesies Coelacanth kedua bahkan ditemukan di Indonesia pada tahun 1999. Ikan ini adalah predator besar,dengan panjang mencapai 2 meter (6 '6 "), mereka memakan ikan yang lebih kecil, termasuk hiu kecil, dan biasanya ditemukan di dalam, perairan gelap. Meskipun jarang ditangkap dan dikonsumsi karena rasanya yang mengerikan, raja ikan laut ini sangat terancam populasinya.
Sebuah species ikan yang diduga sudah punah 65 juta tahun yang lalu, ternyata masih hidup di perairan Indonesia. Ikan ini ditemukan di perairan Manado. Sebenarnya penduduk lokal sudah lama mengenal ikan ini dengan sebutan ikan raja laut. Dan ternyata ikan ini mempunyai nama ilmiah Coelacanth, yang tadinya dianggap sudah punah lama.
Penemuan ikan purba ini sebenarnya sudah pernah dilaporkan pada tahun 1938. Tidak di perairan Manado, tetapi di laut timur pantai Afrika Selatan. Seorang pelaut yang menemukan ikan aneh ini, lalu mengirimnya ke London untuk diteliti. Seorang kurator museum di East London, Marjorie Courtenay Latimer menyerahkan temuan ikan tersebut kepada ahli ikan dari Universitas Rhodes, Prof. J.L.B. Smith. Maka nama ikan purba ini diberi nama Latimeria chalumnae smith.
Beberapa tahun kemudian, ikan-ikan ini banyak ditemukan di kepulauan Komoro, Samudera Hindia bagian barat. Laporan lain menunjukkan ikan ini juga hidup di perairan Mozambique dan Madagaskar. Namun populasi terbanyak diperkirakan berada di perairan Kepulauan Komoro ini. Sehingga ikan ini pun dikenal dengan nama Coelacanth Komoro.
Pada tahun 1998, di perairan Pulau Manado Tua, nelayan setempat menangkap ikan Raja Laut. Ikan ini diserahkan pada seorang peneliti Amerika yang berada di Manado, Mark Erdmann. Bersama-sama koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI, mereka menuliskan di jurnal Nature, bahwa ikan Raja Laut ini adalah spesies Coelacanth, yang juga ditemukan di Kepulauan Komoro. Hal ini cukup mengagetkan dunia ilmu pengetahuan, mengingat jarak antara Kepulauan Komoro dan pulau Manado Tua cukup jauh (lebih dari 10.000 km).
Secara fisik ada perbedaan, warna ikan yang ditemukan di perairan Manado berwarna coklat. Sementara Coelacanth Komoro berwarna biru baja. Setelah lewat serangkaian tes, ditemukan bahwa ikan Raja Laut dari Manado ini bisa dikategorikan sebagai spesies yang berbeda dengan saudaranya yang di Kepulauan Komoro. Maka ikan Raja Laut ini pun diberi nama ilmiah Latimeria menadoensis, atau juga dikenal sebagai Coelacanth Sulawesi yang dikatakan bahwa coelacanth indonesia lebih tua daripada coelacanth afrika dengan perubahan yang tidak jauh berbeda dengan coelacanth pada jaman prasejarah dahulu .
Coelecanth sejak tahun 1980 telah masuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang menyatakan ikan ini tidak boleh diperdagangkan antar negara.
Kata Coelacanth berasal dari kata-kata Yunani; coelia (berongga) dan acanthus (duri), yang berarti ikan dengan duri berongga. Berbeda dengan jenis ikan pada umumnya, Coelacanth memiliki "rostral organ" pada bagian pernapasan sebagai sistem electrosensory, dan engsel pada tengkorak yang memudahkan bagian depan tempurung kepala untuk bergerak lebih cepat, sehingga juga memperluas terbukanya mulut saat bernapas. Karakter ini tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Keunikan lain termasuk lubang pengisi cairan "notocord" (yang biasa dimiliki oleh vertebrata primitif), hal ini memperkuat tulang belakang dan panjangnya tubuh.
Diduga, ikan Coelancanth ini masih mungkin ditemukan di perairan lain, selain di Kepulauan Komoro, perairan Manado, maupun populasi kecil di perairan Mozambique, Madagaskar, dan Afrika Selatan. Mereka ini umumnya hidup di kedalaman laut , paling tidak 150-700 meter. Namun di Manado, pernah dilaporkan ikan Raja Laut ini berenang di permukaan. Dan pada bulan Mei 2007, dua orang nelayan menangkap kembali ikan Coelacanth ini, seberat 51 kg ketika ditangkap. Dan ikan tersebut diawetkan untuk keperluan penelitian.
Kalau ingin menyaksikan bagaimana wujud ikan purba ini, kita dapat menyaksikannya di Taman Impian Ancol, khususnya di SeaWorld. Di sini dipajang ikan ini (Latimeria menadoensis ) yang sudah dikeringkan/diawetkan.
NB : Dari berbagai sumber ..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar